Kubahan masa deskrit sebuah estetika
Ini poster go green kedua karya Kukun Kurnia, ya gue harap sesuai sama penilaian MASTER OF GALAU atau kami menyebutnya MR.S
sepertinya gue sangat lelah dinilai belum kompeten dimatanya. ya semoga saja poster ini kompeten. amin. Kami mohon jangan membuat kami galau lagi.
Sinopsis::
Seorang gadis biasa yang bermimipi bertemu dengan sang idola, Tapi ternyata Tuhan memberinya lebih. dia bisa dekat dengannya, bahkan perasaanya dengan sang idola lebih dari perasaan biasa, ya orang sering menyabutnya cinta.
tapi dia sadar bahwa sang idola adalah orang hebat dan terkenal, bukan hanya satu gadis yang dekat dengannya bahan ribuan gadis, dan itu membuatnya sakit.
disaat sakit seperti itu, seseorang datang memberi bahunya agar dia bisa bersandar. kian hari rasanya semakin nyaman.
yang namanya hidup memang tak selalu indah, ada kalanya mereka harus menantukan pilihan. dan hatinya mantap memilih si pencuri hatinya yang pertama, yaitu sang idola. Namun kamantapan hatinya mengendur saat kata ‘maaf’ terucap dari bibirnya sang idola, dilanjutkan dengan kata “Kamu akan lebih baik dengan Seungri.”
“Aku maunya kamu, bukan Seungri”
ff created by: Delian Part Iny
cover design by: Kukun Kurnia
bisa baca ff-nya di http://www.facebook.com/delian.partiny#!/note.php?note_id=10150296291582696
Draco adalah sebuah rasi bintang (konstelasi) di langit utara jauh. Namanya adalah bahasa Latin untuk naga. Draco tidak pernah tenggelam dari horizon karena ia berada di hemisfer utara. Draco adalah salah satu dari 48 konstelasi yang ditemukan oleh antariksawan abad ke-2 Ptolemius, dan hingga sekarang tetap menjadi salah satu dari 88 rasi bintang modern.
# Menurut saya DRACO itu sebuah nama yang bagus. (sesuatu)
cast :
• PA Runako (lk)
• Blue (pr)
• Cocoon (gue)
• Lian (portable)
• Hayama (pr)
• Suzie (pr)
• Ephend (lk)
(Didalam sebuah café pada pukul 21.00)
Café malam itu begitu sepi, hanya Cocoon dan Hayama yang magang ditambah PA Runako dan pelanggan pun enggan berkunjung entah mengapa.
“Ehh waktunya pulang nih, yu kita izin sama PA Runako” ucap Hayama tergesa-gesa sambil memandangi jam tangnnya. Cocoon dan Hayama mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu kantor 101 dengan perlahan. Namun mereka melihat sosok PA Runako berdiri tagap menghadap cermin, dekat dan sangat dekat hingga tak bejarak.
“PA Runako, kami izin pulang, shift kami telah selesai” ucap Cocoon seraya menarik tangan PA Runako agar dia menolah, terlihat tangannya yang amat mulus mengenakan arloji merk japan berlapis emas, hanya saja seperti jam rusak, karena waktunya menunjukkan pukul 04.04 dan tanggalnya 24-04-2004 itu adalah waktu beberapa tahun silam. Dia tak merespon apapun dan terus menatapi cermin lekat tanpa batas.
(Clining)
Bell café berbunyi menandakan ada yang datang, merekapun menoleh kearah pintu terkecuali PA Runako yang diam 1000 bahasa.
“Kami sudah tutup” kata hayama sambil mengintip kearah pintu depan.
“Kalian lembur yah, ada Sumi dan Purin yang tengah lapar, ingat prinsip kita, pelanggan adalah uang ” kata PA Runako sambil memegang tangan Sumi dan Purin seraya mempersilahkan mereka duduk.
“Aku pesan nasi goreng special+susu cokelat” ucap Sumi
“Aku sama seperti Sumi, dengan coffee latte” tambah Purin
Tetapi kedua pegawai café itu belum menutup mulut mereka karena kebingungan akan hal yang baru saja mereka lihat. Tak lama kemudian sebuah ponsel bergetar menyadarkan lamunan Cocoon.
“Ya chagi aku harus lembur” ucap Cocoon sedikit panik pada ponselnya.
“Aku kesana” ucap Lian dingin tanpa beban dari balik ponsel Cocoon.
Sedangkan Hayama bingung sendiri mencari alasan untuk pulang, karena dia yakin Cocoon akan dijemput oleh tunangannya itu.
(Didalam dapur)
Cocoon dan Hayama memasuki dapur dengan kegiatan saling menatap tanpa bicara sedikitpun, lalu mengantarkan pesanan itu sampai pelanggan puas, mereka tak berani menanyakan apapun pada PA Runako.
(Clining)
Suara bell pertanda ada pelanggan lagi. “Silahkan duduk tuan Lian” sapa PA Runako ramah, namun Lian menuahkan tatapan sinis.
“Cih sombong sekali kau” ketus PA Runako yang enggan pada Lian.
“Aku tak punya urusan denganmu” ucap Lian singkat lalu menarik tangan Cocoon keluar café.
Lalu dengan segera Hayama menahan tangan Cocoon tanpa memperdulikan Lian yang lebih geram menatapnya penuh kebencian, terlihat tatapan mereka beradu seperti sebuah perang bisu.
“Biarkan Cocoon pergi dengan tunagannya itu Hayama! kau disini lembur denganku” tungkas PA Runako mengakhiri perang bisu antara Hayama dan Lian.
“PA Runako curang, yang punya tunangan boleh pergi, kalau begitu mulai sekarang aku juga tunangan Lian” ucap Hayama menggandeng tangan Lian, mengakui bahwa Lian juga tunanganya. Hayama pun ikut keluar café bersama mereka.
(Diluar cafe)
“jika kau tak bisa memberiku bahagia, aku tak bisa bersamamu, masih banyak wanita yang bisa memberiku waktu bersama selain kau” Tungkas Lian menatap Cocoon sinis.
“Eh maaf Lian tadi aku hanya bercanda, kau dan Cocoon jangan bertangkar ya” Sahut Hayama mencoba menetralisir keadaan.
“Lian dengarkan aku dulu” ucap Cocoon menyentuh pipi Lian dengan lembut. namun Lian menangkis buaian tersebut dengan kasar sampai membuat Hayama yang ada didekat mereka mundur beberapa kaki. kemudaian dia pergi meninggalkan cincin tunangan dibawah kaki Cocoon.
(Cocoon POV)
“malam dingin ini semakin dingin ketika ketika Lian berkata LET’S BREAK UP” Gumammku lirih menatap langit-lamgit kamar.
(POV end)
Para pelanggan telah pulang, pegawai cafe pun meninggalkan PA Runako sendirian bersama seluruh usaha dan keringatnya. Dia merebahkan tubuhnya pada kursi manager kekuasannya dan melirik sebuah frame foto dimeja tersebut. Air matanya mengalir bagai mutiara tanpa isak tangis yang terdengar.
(pagi hari pukul 07.44)
Selesai lari pagi Hayama mendekati Cocoon yang sedang meratapi nasib sambil memainkan pasir dikakinya.
“Cocoon semalam itu….” Belum sempat Hayama meneruskan kalimatnya, seseorang telah membungkam mulutnya yang entah darimana dia datang.
“Aku tahu kejadian malam itu, maaf ya membuatmu harus putus dengan tunanganmu” PA Runako mulai bicara setelah menutup mulut Hayama dengan kaos kaki yang dia pakai.
“Soal Lian, aku tak masalah, aku masih punya Suzie, Kyuyi, Hyumi” timpal Cocoon.
“Huaah PA Runako, semalam aku melihatmu menggunakan jas warna putih dan terlihat amat keren tapi kau….” Baru saja Hayama membuka mulutnya sekarang dia sudah berada dibawah ketiak PA Runako.
“Jangan bicarakan disini, nanti kalian shift 2 kan?” Tanya PA Runako
“Enak saja, Cocoon iya, tapi aku tidak” ucap Hayama dengan seketika sudah terjengkang karena PA Runako telah menendang Hayama. Kemudian PA Runako pergi lagi.
Shift 1 selesai, sekarang giliran shift 2, kali ini cocoon ditemani Suzie dan Ephend, hari itu memasuki jam 3 siang, cuaca mendung dan terlihat amat gelap. Cocoon sedang membuat makanan untuk mereka, Ephend seadang cuci piring dan Suzie dia sedang…..
“Tolonglah segera kau keluar dari wc, aku sudah tidak tahan.” ucap Suzie yang sudah menangis sambil mengompol dilantai, lalu keluarlah sosok PA Runako dari dalam sana dengan tatapan amat bengis dan tak sedetikpun megalihkan pandangan dari Suzie.
“Hey kau kenapa? “ Tanya Ephend bingung, dan sekarang Suzie yang diam tanpa kata dengan air pipis yang sudah berserakan.
PA Runako menghapiri mereka dengan berlari
“Ada apa ini?” Tanya PA Runako.
Suzie memalingkan wajah kearah PA Runako dengan ketakutan dan berlari keluar café.
“Ephend kau bersihkan ini” tungkas PA Runako menunjuk lantai.
Lagi-lagi Ephend hanya menggerutu kesal sambil memonyongkan bibirnya.
(Di tempat pengunjung)
Cocoon mendekati PA Runako yang sedang duduk menatapi luar ruangan cafe.
“PA sekarang jam 9, aku izin pulang ya” sapanya ragu.
“Sedang berbicara dengan siapa kau?” Tanya PA Runako dari arah belakang
“Aku tadi disini PA Runako duduk PA Runako ada duduk disini tadi” jawab Cocoon terbata-bata sambil menunjuk tempat PA Runako duduk dengan wajah linglung.
“Sudah kuduga, sesuatu yang tak kuharapkan terjadi disini. malam ini kita adakan ritual pemanggilan arwah pukul 00.04” selidik pemilk cafe penuh antusias.
(pukul 23.24)
PA Runako, Cocoon dan Ephend sibuk menyiapkan alat dan bahan untuk ritual. Ephend mematikan seluruh lampu yang ada pada cafe. Dinyalakannya 44 lilin cantik melingkari mereka, tepat pukul 00.04 mantra mulai dibacakan. Semua hening sepi tenang tak berisyarat. Angin pun menerobos masuk lewat pintu secara paksa.
”Bruakkh” suara pintu yang membentakkan dirinya kearah tembok. Sontak mereka bertiga membuka kelopak matanya secepat angin menerpa.
Terdengar jelas alunan musik indah namun menyayat hati dan mengekang jiwa, kami menyebutnya alunan musik kematian, musik itu terdengar dari sebuah piano yang terpajang disana. PA Runako langsung mengambil tindakan.
”Cocoon cepat kau putuskan aliran listrik pada piano itu, sebelum musik itu memakan korban” perintah PA Runako kaku dengan mata berkaca.
Cocoon pun berlari kearah piano itu.
namun ditempat kejadian, dia seperti masuk kedalam sebuah ilusi gelap yang mengantarkan pada sebuah keterpurukan masa lalu, dia terbelenggu didalamnya dan hanyut terbawa aliran hingga terasa nyata.
”Aaaaaaaaaaaaaa” suara Cocoon membuat PA Runako dan Ephend beranjak dari tempatnya semula.
Terlihat Cocoon tergeletak dilantai dengan mulut terbuka (irony).
Tak lama setelah itu, munculah sosok Runako dengan jas putih seperti yang terlihat pada malam itu.
“Blue, kenapa kau masih disini?” Tanya PA Runako pada sosok clone dirinya yang benar-benar mirip.
“Aku sayang padamu Runako, aku ingin hidup bersamamu, kau tidak tau betapa aku takut, aku sedih dan terluka, setiap saat aku selalu bertanya pada cermin, dimana letak salahku, tapi semua nihil, semua nista, bahkan diriku juga nista, kenapa tuhan melahirkanku sebagai perempuan, kita kembar namun tuhan membiarkanku terlahir sebagai perempuan, dan kau laki-laki, kenapa?” sosok transparant itu lirih dengan suara yang bisa dibilang hampir tidak bicara.
Mereka berdua tidak bisa bicara apapun dan hanya melihat sosok arwah itu tengah menangis menghadap luar café, bahkan mereka ak memperdulikan Cocoon yang masih dengan pose seperti itu.
”Apa kau ingat? 24-04-2004 adalah hari kematianku. Aku sungguh tersiksa, karena sampai saat ini aku tak bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.” ucapnya lagi sambil melihat PA Runako dengan tatapan amat memelas, berwajah mungil sendu dan terlihat rapuh.
(Flahsback Blue)
“kenapa kau lakukan ini Lian? kenapa?” Jerit Blue disertai deraian air mata bak sungai yang meluap sambil memeluk tubuhnya sendiri.
“kau tak bisa memberiku kebahagiaan” ucap Lian sambil melepas sabuk yang dia gunakan kemudian mengikatkannya pada leher Blue yang halus dengan sekuat-kuatnya.
“Aaaarrkkh lepaskan aku” Blue mencoba meronta-ronta, namun apalah daya, wanita ini terlalu lemah untuk Lian, bahkan lemah hatinya.
”Bruukh” Suara pintu terbuka secara paksa, seseorang tengah melihat aksi Lian, namun Lian pergi melarikan diri.
”Apa yang terjadi? Aku tak bisa melindungi seseorang yang ku cinta” Lelaki itu mendekati Blue yang sudah tak bernyawa, memelukknya perlahan dengan tatapan kosong penuh cinta bercampur sesal.
Kemudian dia membawa Blue ke UKS dimana dia sebagai ownernya.
Tapi apalah daya, Blue sudah pergi. Jangan salahkan waktu, bukan waktu yang memisahkan mereka, tapi waktu terpaksa menunda cinta mereka.
(Flashback end)
Suasana cafe semakin terasa dingin, dengan hujan badai yang ikut menyemarakkan suasana.
Tiba tiba datanglah seorang pria dengan jas berwarna cokelat, penampilannya amat necis, dan dia berdiri disudut cafe dengan membawa sebuah kotak yang dihiasi pita diatasnya, dia adalah PA Chandra.
“Mengapa kau ingin jadi pria?” Tanya lelaki berjas cokelat itu.
“Karena aku ingin menjadi kuat dan tidak pernah dilecehkan, aku malu pada diriku sendiri, kejadian itu telah merenggut segalanya bagi seorang wanita” tungkas Blue menjawab sebuah pertanyaan dari kegelapan disudut café.
“Itukah alasannya mengapa kau memotong rambutmu seperti pria?” Tanya PA Chandra sambil membuka kotak pita itu, yang ternyata berisi rambut indah milik Blue yang diikat rapi tanpa sehelaipun terselip didinding kotak.
“Kau menyimpannya?” Tanya Blue menatap PA Chandra.
“Apapun yang menyangkut dirimu tidak akan pernah menghilng dari diriku” kata pria itu mendekati Blue dan memasangkan helai demi helai rambut Blue yang terpotong.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya blue menghadapkan tubuh kearah pria berjas cokelat.
PA Chandra tetap menyambungkan rambut Blue meskipun dengan karet gelang. Tatapan Blue berubah saat memandang pria itu, seakan dirinya telah rapuh masuk kedalam sebuah jiwa yang tak pernah henti memeluknya dengan berjuta cinta, namun PA Chandra tetap fokus mengikat rambut Blue perlahan demi perlahan, seakan tak ingin kehilangan satu nyawapun dari dalam dirinya jika sampai rambut itu tertinggal.
Sementara pria itu menguncir, Blue menatapnya dalam hingga kedasar hatinya dan mulai berkata.
“Aku tak pantas untukmu, lebih baik kau……..” Belum selesai Blue berbicara, ternyata pria itu mendekati Blue tanpa jarak, dekat amat dekat menyeka wajah belia Blue yang penuh kegusaran hingga Blue tak melanjutkan perkatannya.
“Yang bagian ini agak susah disambung” tungkas pria itu berbisik dibalik telinga Blue dengan posisi berpelukan namun tangannya tak henti memainkan karet dibalik kepala Blue.
“Sudah selesai” ucap pria itu tersenyum memandang Blue.
“Jika seperti ini bercerminlah” timpalnya lagi sambil membalikkan tubuh mungil Blue kedepan pintu café yang terbuat dari kaca.
“Mana? Bayanganku tak terlihat disana, hanya ada bayanganmu saja” Tanyanya ragu pada pria yang mengikat rambutnya dengan karet gelang.
”Kalau begitu berkacalah dimataku” ucap PA Chandra membalikkan tubuh Blue agar Blue bisa menatap matanya. Mereka saling bertatap tanpa kata, mata cantik milik Blue menggantungkan air tanpa menjatuhkannya.
”Apa aku perempuan?” tanya Blue sambil menyentuh rambut sambungannya.
“Berdustalah orang yang telah mengubur hatimu hingga kau terpuruk sampai berbicara seperti itu, layaknya langit indah yang temaram aku takkan membiarkanmu terluka walau sebulir debu yang menabur disore musim panas” tungkas PA Chandra lembut sambil membelai rambut Blue dan menatapnya tanpa berkedip.
Baiklah kali ini pemandangan romantis dihadapan PA Runako dan Ephend benar-benar membuat mereka melupakan Cocoon _ _’.
“I can’t with you, but I never say ”I CAN’T LOVE YOU”
”Pergilah dengan tenang, jangan tersenyum seperti itu, karena wajahmu mengalihkan duniaku ke dunia lain” itulah kata kata yang diucapkan PA Chandra pada kekasih hatinya yaitu Blue.
”Aku akan menunggumu, walaupun sangat lama, bagiku hanya terasa satu detik” lirih Blue dengan guratan tipis dibibirnya yang membentuk lambang kebahagiaan yaitu sebuah senyuman.
Perlahan bayangan tipis transparan itu menghilang dalam kalbu pagi yang sejuk, sementara PA Chadra, PA Runako dan Ephend masih tak bergerak.
Setelah pagi hari, cafe sangat ramai karena ditemukannya Cocoon terbujur kaku masih dengan mulut yang terbuka.
”Oh iya PA, semalam itu Cocoon tergeletak dilantai, ayo kita lihat” Seru Ephend yang menyadari rekan kerjanya sudah dikerumuni orang.
Setelah diperiksa oleh tim medis UKS ternyata Cocoon masih hidup, hanya saja diperkirakan dia akan mengalami koma yang panjang.
SEBENARNYA
Cocoon tidak koma, melainkan ruh-nya masih dalam ilusi keterpurukan masa lalu yang diikat oleh Blue hingga dia benar -benar terkurung didalamnya dan tidak bisa keluar.
Bagaimanakah kehidupannya??
Jeng jeng jeng jeng…………………………………….
#niup sangkakala
TAMAT
Terimakasih kepada,
ALLAH SWT atas nyawa yang masih diperpanjang masa aktifnya.
Mama & bapa yang udah kasih makan ’?’
Para cast yang udah bersedia eksis dengan karakter tak diharapkan
Suzie yang memberi semangat lewat rasa cintanya #jgerr
Facebook yang menemani saya kerja sambilan, sambil tugas sambil facebookan XD
EE (everyone else)
#mencoba posting ff magang akademi sastra, kapan-kapan mau bikin yang non magang